Sabtu, 24 Mei 2025

KEUTAMAAN SILATURAHMI



KEUTAMAAN SILATURAHMI

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya, dan agar diakhirkan sisa umurnya, maka hendaknya ia menyambung tali rahimnya (tali silaturahim). [HR. Al-Bukhâri, no. 5985][1]

 KOSA KATA

مَنْ أَحَبَّ : lafazh مَنْ  adalah isim syarat jâzim 
(yang menjazamkan); أَحَبَّ fi’il syarat; sedangkan jawabnya adalah kalimat فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
 أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ 
dengan format mabni lil majhûl (format kalimat tidak disebutkan fa’il atau pelakunya); artinya agar diluaskan rezekinya. 
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa melapangkan dan meluaskan maksudnya adalah diperbanyak. Sedangkan kata rizquhu  artinya adalah marzûquhu (artinya apa yang direzekikan kepadanya); yaitu bentuk mashdar namun menunjukkan arti maf’ul.

 أَنْ يُنْسَأَ 
dengan bentuk mabni lil majhûl; dari kalimat insâ’ yang berarti diakhirkan, diulur atau dipanjangkan. Kata an (أَنْ )dan kata kerja setelahnya (يُنْسَأَ ) ditakwilkan sebagai mashdar yang berkedudukan sebagai maf’ûl bih (obyek penderita).

فِي أَثَرِهِ : أَثَرٌ 
bentuk mashdar dari kata kerja atsara (artinya mengikuti jejak atau bekasnya). Kata atsar maksudnya adalah ajal dan sisa umur seseorang. Ajal disebut dengan kata atsar karena ia mengikuti umur.

فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ 

(hendaknya ia menyambung tali rahimnya) ini adalah perintah untuk menyambung tali silaturahim. Kata shilah (kata kerjanya adalah washala – yashilu artinya menyambung) adalah mashdar dari washala; lawan dari qatha’a (memutus). Silaturahim adalah bentuk kiasan dari perbuatan baik dan kemurahan hati yang dilakukan kepada orang-orang dekat, baik dari kalangan orang-orang yang bertautan nasab ataupun karena kekerabatan dengan sebab pernikahan.
 فَلْيَصِلْ 
(hendaknya ia menyambung) adalah jawab dari man ( مَنْ )
yang merupakan kata bersyarat (asy-syarthiyyah). 
Oleh karena itu, kata falyashil dimasuki huruf fa’.
Silaturahim (menyambung tali rahim) bisa dilakukan dengan menyambung para kerabat dekat dengan memberi harta, atau dengan memberi suatu pelayanan, berkunjung kepadanya dan yang semacamnya.
رَحِمَهُ 
kata rahim pada asalnya bermakna tempat tumbuhnya anak dalam perut ibu. Kemudian kekerabatan karena unsur ini (hubungan karena disebabkan kelahiran) disebut dengan kata Rahim. Para Ulama berselisih pendapat tentang rahim. Ada yang mengatakan maksudnya adalah setiap yang ada hubungan rahim yang menjadi mahram. Ada lagi yang mengatakan maksudnya setiap orang yang menjadi ahli waris. Ada lagi yang mengatakan maksudnya adalah orang yang menjadi kerabat dekat, baik itu yang menjadi mahram, ataupun tidak.

KANDUNGAN HADITS

1. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

Dan orang-orang yang menghubungkan (menyambung) apa-apa yang Allâh perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. [Ar-Ra’d/13:21]

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “(ayat ini) begitu jelas menunjukkan masalah silaturahim (menyambung tali persaudaraan). Ini adalah pendapat Qatâdah rahimahullah dan kebanyakan para ahli tafsir. Meski demikian, ayat di atas mencakup semua bentuk ketaatan.”

2. Telah datang suatu riwayat dari imam al-Bukhâri, no. 5989 dan juga Imam Muslim, no. 2555 dari hadits Aisyah Radhiyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللهُ، وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللهُ

Rahim bergelantung memegang erat pada arsy seraya berkata, “Barangsiapa menyambungku, Allâh akan menyambungnya. Dan siapa yang memutuskanku, Allâh pun akan memutusnya.” [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

3. Silaturahim menjadi faktor kuat yang Allâh Azza wa Jalla jadikan sebagai sebab lapangnya rezeki orang yang menyambungnya, serta menjadikannya sebab keberkahan dan panjangnya umur untuk bisa melakukan amalan-amalan yang shalih, dan mengambil bekal dari kehidupan yang sementara ini menuju negeri yang kekal dan abadi.

Baca Juga  Tidak Boleh Mengatakan Hadits Dha’if Dengan Lafazh Jazm (Lafazh yang Memastikan atau Menetapkan)
Ibnu Allân rahimahullah dalam Syarah Riyâdhus Shâlihîn berkata, “Ibnu at-Tîn berkata, “Zahir hadits di atas bertentangan dengan firman Allâh:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. [Al-A’râf/7:34]

Namun kita bisa mengkompromikan dan menggabungkan dua nash tersebut dengan satu dari dua hal berikut:

(1). Ditambahkannya umur orang yang menyambung tali silaturahim kita artikan sebagai kinâyah (kata kiasan) yang menunjukkan keberkahan dalam umur. 
Keberkahan umur ini karena ia telah diberi taufiq dan bimbingan dari Allâh Azza wa Jalla untuk melakukan ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengisi waktunya dengan hal yang bermanfaat dan mendekatkannya kepada Allâh Azza wa Jalla . 
Pengertian ini dikuatkan oleh hadits, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluhkan pendeknya umur umat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan umur umat sebelumnya.
Lantas Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan malam yang disebut lailatul qadar (yang lebih baik dari seribu bulan).

(2). Penambahan umur ini diartikan dengan makna sebenarnya.
[2]. Dan itu bila dilihat pada ajal yang memang digantungkan dengan sesuatu hal (mu’allaq) yang tertulis di Lauhul Mahfuzh yang diserahkan kepada Malaikat. Misalnya, telah tersurat bahwa bila si fulan ini melakukan ketaatan, maka umurnya sekian tahun. Kalau ia tidak melakukan ketaatan, maka umurnya sekian tahun. Sedangkan Allâh Azza wa Jalla Maha Tahu akan apa yang terjadi dari dua keadaan ini. Sedangkan ajal yang memang sudah dipastikan dalam ayat, itu adalah berdasarkan pada ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang memang tak akan ada perubahan di dalamnya. Mengenai hal tersebut (bahwa adanya sesuatu seperti halnya ajal yang tergantung), diisyaratkan pada firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

Allâh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh). [Ar-Ra’d/13:39]

Dalam hadits di atas, terkandung apa yang diisyaratkan oleh awal ayat ini (bagian awal ayat ke-39 dari Surat ar-Ra’d; yakni bahwa Allâh Azza wa Jalla menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki).

Yaitu adanya ajal yang digantungkan pada sesuatu hal. Sedangkan firman Allâh Azza wa Jalla selanjutnya [dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh)] mengisyaratkan pada ilmu Ilahi yang sama sekali tak ada perubahan di dalamnya. Ini juga diungkapkan dengan istilah qadha yang telah dipastikan (al-qadhâ’ al-mahtûm);
sedangkan untuk makna dari ayat bagian pertama di atas diungkapkan dengan sebutan al-qadhâ’ al-mu’allaq (qadha’ yang digantungkan).

Memaknai hadits di atas dengan penafsiran pertama, itu lebih sesuai dengan hadits pembahasan kita di atas. Karena kata atsar (yang artinya mengikuti jejak; di mana dalam hadits di atas diartikan dengan makna sisa umur) berarti apa-apa yang mengikuti sesuatu hal.
Maka bila ajal seseorang diakhirkan, akan tepat pula bila diartikan dengan makna bahwa ia akan dikenang dan disebut-sebut dengan kebaikannya setelah ia meninggal dunia.

Ath-Thîbi rahimahullah berkata, “Makna yang pertama itu yang lebih kuat. Dan itulah yang diisyaratkan oleh penyusun kitab Al-Fâ’iq.”

4. Menurut penulis Taudhîhul Ahkâm, yang lebih bagus lagi dari dua pendapat di atas adalah bahwa Allâh Azza wa Jalla telah mentakdirkan dan menetapkan hal-hal yang menjadi sebab dan musabbab (akibat); dan bila Allâh Azza wa Jalla telah mentakdirkan untuk memanjangkan umur seseorang, maka Allâh Azza wa Jalla akan memudahkan baginya berbagai sebab, baik yang bersifat indrawi maupun maknawi; yang menjadi sebab panjangnya umur seseorang dan diakhirkan ajalnya.

Baca Juga  Jawaban : Siapa Yang Menciptakan Allah

5. Inilah yang menjadi pendapat para Ulama muhaqqiqin (para ahli yang mendalami berbagai permasalahan dengan cermat dan teliti).
Di antara mereka adalah Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah. Ketika men-syarah hadits ini, beliau rahimahullah menerangkan, 
“Dalam hadits tersebut terdapat dorongan untuk menyambung tali silaturahim. 
Terdapat pula keterangan bahwa di samping itu akan mendatangkan ridha Allâh Subhanahu wa Ta’ala , ia pun akan mendatangkan pahala dan balasan yang disegerakan; yaitu dengan diperolehnya hal-hal yang disukai oleh seseorang; juga ia menjadi sebab rezeki si pelakunya dilapangkan dan diluaskan, sebagaimana pula menjadi sebab umurnya diperpanjang. Dan ini dalam pengertiannya yang sebenarnya.
Sebab Allâh Azza wa Jalla yang menciptakan sebab dan buah dari sebab itu (akibat).
Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan ada sebab dari segala hal yang dicari dan diinginkan; ada jalan yang merupakan cara agar hal tersebut bisa digapai.
Ini berlaku sesuai dengan suatu prinsip agung dan bahwa itu adalah di antara hikmah dan sisi pujian-Nya.Prinsip agung ini adalah menjadikan balasan sesuai dengan jenis amalnya.
Maka sebagaimana seorang Muslim menyambung tali silaturahimnya dengan berbagai kebaikan dan kebajikan yang bervariasi, dan iapun memasukkan rasa senang ke dalam hati mereka, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menyambung umurnya, menyambung rezekinya, dan membukakan baginya pintu-pintu rezeki dan barakah-Nya; di mana itu semua tidak akan terwujud tanpa sebab yang agung tersebut.

Kita tahu bahwa udara yang sehat, memperhatikan pola pemberian nutrisi yang bagus, mengkonsumsi berbagai hal yang dapat menguatkan badan dan juga jantung, itu semua di antara sebab panjangnya umur. Maka demikian pula dengan menyambung tali silaturahim. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai sebab rabbani. Karena sebab-sebab yang bisa mewujudkan berbagai hal yang disukai manusia untuk urusan duniawi ada dua kategori: sebab-sebab yang sifatnya materil (bisa diindera); dan sebab-sebab yang sifatnya Rabbaniyah (sebab spirituil); di mana yang mentakdirkan hal itu menjadi sebab adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu; yang mana semua sebab tunduk pada kehendak-Nya.

6. Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa maksud dan tujuan dari seseorang saat beramal, amalan tersebut bisa mendatangkan sebagian pahala dunia. Dan hal tersebut tidaklah mengapa (tidak merusak pahala akhiratnya) bagi seseorang bila memang tujuan dan maksudnya adalah mencari wajah Allâh Azza wa Jalla dan negeri akhirat. Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla dengan hikmah-Nya, telah menetapkan baginya pahala yang disegerakan di dunia dan juga yang ditangguhkan nanti di akhirat. Allâh Azza wa Jalla telah menjanjikan hal itu kepada orang-orang yang beramal. Maka seorang Mukmin yang tulus, kala ia berbuat (kebajikan) dan meninggalkan (suatu larangan) harus ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla . Dan untuk meraih tujuan luhur tersebut ia bisa lebih menyemangati diri melalui beraneka ragam hal yang membangkitkan motivasi yang ada pada amalan-amalan tersebut. Dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala Yang memberi taufiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Taudhîhul Ahkâm ; karya Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam  7/ 320 – 323
[2] Usianya benar-benar bertambah-red

Home/A9. Wanita dan Keluarga.../Keutamaan Silaturahim
🔍 Api Di Yaman, Perbedaan Qadha Dan Qadar, Merapikan Alis Dalam Islam, Tujuan Otopsi, Cara Melakukan Sholat Witir

🔗 SSD VPS

Referensi : https://almanhaj.or.id/9551-keutamaan-silaturahim.html
Referensi : https://almanhaj.or.id/9551-keutamaan-silaturahim.html

Referensi : https://almanhaj.or.id/9551-keutamaan-silaturahim.html
Referensi : https://almanhaj.or.id/9551-keutamaan-silaturahim.html
https://almanhaj.or.id/9551-keutamaan-silaturahim.html
   

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan kirim Email untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit.

Delivered by FeedBurner

Silahkan Masukan Alamat Email Anda dan Klik SubScribe Ikuti Petunjuk di layar anda untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan Menerima Artikel Terbaru Setiap ada Postingan terbit. Jazakalla Khair

Delivered by FeedBurner

TULIS DI SINI


Silahkan Masukan Alamat Email Anda dan Klik SubScribe Ikuti Petunjuk di layar anda untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan Menerima Artikel Terbaru Setiap ada Postingan terbit. Jazakalla Khair

Delivered by FeedBurner

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan kirim Email untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit.

Delivered by FeedBurner

Jumat, 27 Desember 2024

BACAAN TAHLIL LENGKAP DENGAN DOA


BACAAN TAHLILAN 

Lengkap dengan Doa Tahlil 

untuk Arwah

--------------------------------------

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاٰلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَأَوْلَادِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ الْفَــاتِحَةُ

Latin: 

Ila adlratin-nabiyyil-musthafa sayyidina Muammadin shallallahu alaihi was sallama wa âlihi wa azwâjihi 

wa awlâdihi wa dzurriyyatihi al-fatiahKepada yang terhormat Nabi Muhammad , segenap keluarga, istri-istrinya, anak-anaknya, dan keturunannya. 

Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. 

Al-Fatihah…

ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، خُصُوْصًا إِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجِيْلَانِي وَخُصُوْصًا إِلَى مُؤَسِّسِيْ جَمْعِيَّةِ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ الْفَــاتِحَةُ 

T:Lati

Tsumma ilâ adlrati ikhwânihi minal-anbiyai wal-mursalin 

wal-auliyai wasy-   syuhadâi wash-shâlihîn ash-sha abati wat tâbi‘în wal-‘ulamâ’il-‘âmilîn wal-mushannifînal-mukhlishîn wa jamî‘il-malâikatil-muqarrabîn,

khusûshan ilâ sayyidinâsy-syaikh ‘abdil qâdir al-jîlânî wa khushûshan ilâ muassisî jam‘iyyah Nahdlatil Ulama, al-fâtiḫah Lalu kepada

segenap saudara beliau dari kalangan pada nabi, rasul, wali, syuhada, orang-orang saleh, sahabat, tabi‘in, ulama al-amilin (yang mengamalkan ilmunya), ulama penulis yang ikhlas, semua malaikat Muqarrabin, terkhusus kepada Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan para pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah.

ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا إِلَى اٰبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَأَسَاتِذَةِ أَسَاتِذَتِنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِمَنِ اجْتَمَعْنَا هٰهُنَا بِسَبَبِهِ الْفَاتِحَةُ

Tsumma ilâ jamî‘i ahlil-qubûri minal-muslimîna wal-muslimâti 

wal-mu’minîna wal-mu’minâti min masyâriqil-ardli ilâ maghâribihâ barrihâ wa baḫrihâ khushushan ilâ abâ’inâ wa ummahâtinâ wa ajdâdinâ wa jaddâtina wa masyâkhinâ wa masyâyikhi masyâyikhinâ wa asâtidzati asâtidzatinâ wa liman aḫsana ilainâ wa liman ijtama‘nâ hâhunâ bisababihi, al-fâtiḫahKemudian kepada semua ahli kubur Muslimin, Muslimat, Mukminin, Mukminat dari Timur ke Barat, baik di laut dan di darat, khususnya bapak kami, ibu kami, kakek kami, nenek kami, guru kami, pengajar dari guru kami, mereka yang telah berbuat baik kepada kami, dan bagi ahli kubur/arwah yang menjadi sebab kami berkumpul di sini. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah.

ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أهْلِ الْقُبُوْرِ مِمَّنْ ذُكِرَتْ أَسْمَاؤُهُ فِيْ هٰذِهِ الرِّسَالَةِ حَضْرَةِ رُوْحِ … وَحَضْرَةِ رُوْحِ … وَحَضْرَةِ رُوْحِ … رَحِمَهُمُ اللهُ وَغَفَرَهُمْ، الْفَاتِحَةُ

Tsumma ilâ jamî‘i ahlil-qubûri mimman dzukirot asmâ’uhu fi hâdzihir risâlati, ḫadlrati rûhi…, wa ḫadlrati rûhi…, wa ḫadlrati rûhi…, roḫimahumullâhu wa ghafarahum, al-fâtiḫahKemudian kepada semua ahli kubur, yang namanya disebutkan dalam risalah ini. Kepada…, dan kepada…, dan kepada…. Semoga Allah merahmati dan mengampuni mereka. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ، اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ، وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَـــــدٌ ×٣

Bismillâhir-raḫmânir-raḫîm(i), Qul huwallâhu aḫad, Allâhush-shamad, lam yalid wa lam yûlad, wa lam yakul lahû kufuwan aḫad 3xDengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (3 kali).

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Lâ ilâha illâllâhu wallâhu akbarTiada tuhan yang layak disembah
 kecuali Allah. Allah maha besar.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ، مِنْ شَرِّ مَـــا خَلَقَۙ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ، وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ  حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

Bismillâhir-raḫmânir-raḫîm(i), Qul a‘udzu bi rabbil-falaq, min syarri mâ khalaq, wa min syarri ghâsiqin idzâ waqab, wa min syarrin-naffâtsâti fîl-‘uqad, wa min syarri ḫâsidin idzâ ḫasadDengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

 Lâ ilâha illâllâhu wallâhu akbarTiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah maha besar.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ، مَلِكِ النَّـــاسِۙ، اِلٰهِ النَّاسِۙ، مِنْ شَرِّ 

 الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ، الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّــاسِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Bismillâhir-raḫmânir-raḫîm(i), Qul a‘udzû bi rabbin-nâs, malikin-nâs, ilahin-nâs, min syarril-waswâsil khannâs, alladzi yuwaswisu fî shudûrin-nâs, minal-jinnati wan-nâs.Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

Lâ ilâha illâllâhu wa Allâhu AkbarTiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah maha besar.;

;;;;;;Bismillâhir-raḫmânir-raḫîm(i), al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn, Ar-raḫmânir-raḫîm, mâliki yaumid-dîn, iyyâka na‘budu

 wa iyyâka nasta‘în, ihdinâsh-shirâthal-mustaqîm, shirâtal ladzîna an‘amta ‘alaihim ghairil-maghdlûbi ‘alaihim wa lâdl-dlâllîn. ÂmînDengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah. Hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Kauanugerahi nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Semoga Kaukabulkan permohonan kami.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، الۤــــــمّۤۚ، ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ، الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ، وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ، اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Bismillâhir-rahmânir-rahîm(i), Alif Lâm Mîm, dzâlikal-kitâbu lâ raiba fîhi, hudal-lilmuttaqîn, al-ladzîna yu’minûna

unzila min qablika, wa bil-âkhirati hum yûqinûn, ulâ’ika ‘alâ hudam mir rabbihim wa ulâ’ika humul-mufliḫûn.Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Alif lam mim. Demikian itu kitab ini tidak ada keraguan padanya. Sebagai petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad ﷺ) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari tuhannya. Merekalah orang orang yang beruntung.

Wa ilâhukum ilâhuw wâḫidul lâ ilâha illa Huwar-raḫmânur-raḫîm.Artinya, “Dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang maha esa. Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Dia yang maha pengasih lagi maha penyayang.”

وَإِلٰهُكُمْ إِلٰهٌ وَّاحِدٌ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيمُ

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ الْعَظِيْمُ

Allahu lâ ilâha illa huwal-ḫayyul-qayyûm(u). Lâ ta’khudzuhû sinatuw wa lâ naûm(u). Lahû mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl. Man dzal ladzî yasyfa’u ‘indahû illâ bi idznih(i). Ya’lamu mâ baina aidîhim wa mâ khalfahum. Wa lâ yuḫithûna bi syai’in min ‘ilmihî illâ bimâ syâ’a wasi’a kursiyyuhus-samawâti wal-ardl. Wa lâ ya’ûduhu ḫifdhuhumâ wahuwal-‘aliyyul-adhîm.Allah, tiada yang layak disembah kecuali Dia yang hidup kekal lagi berdiri sendiri. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberikan syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat menjaga keduanya. Dia maha tinggi lagi maha agung.

Tampilkan Tahlil Lengkap

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَـــظِيْمَ ×٣

Astaghfirullâhal-‘adhîm 3 xSaya mohon ampun kepada Allah yang maha agung (3 kali).

أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، حَيٌّ مَوْجُوْدٌ

Afdlaludz dzikri fa‘lam annahu lâ ilâha illallâhu ḫayyun maujûd(un)Sebaik-baik dzikir–ketahuilah–adalah lafal ‘Lâ ilâha illallâh’, tiada tuhan selain Allah, Dzat yang Mahahidup dan Wujud.

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، حَيٌّ مَعْبُوْدٌ

La ilâha illâllâhu ḫayyun ma‘bûdTiada tuhan selain Allah, Dzat yang mahahidup dan disembah.”

لَاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، حَيٌّ بَاقٍ

La ilâha illâllâhu ḫayyun bâqTiada tuhan selain Allah, Dzat yang Mahahidup dan kekal.

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ ×١٠٠

La ilâha illâllâh 100xTiada tuhan selain Allah (100 kali).

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ ×٢

Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muḫammadin, Allâhumma shalli ‘alaihi wa sallimYa Allah, limpahkan rahmat takzim dan keselamatan kepada pemimpin kami, Nabi Muhammad (2 kali).

سُبْحَــانَ اللهِ عَدَدَ مَـــا خَلَقَ اللهُ ×٧

Subḫânallâhi ‘adada mâ khalaqallâhuMahasuci Allah sebanyak makhluk yang Allah ciptakan (7 kali).

سُبحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ ×٣٣

Subḫânallâhi wa biḫamdihi subḫânallâhil ‘adhîmMahasuci Allah dengan segala pujian untuk-Nya. Mahasuci Allah yang Mahaagung (33 kali)

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ ×٢

Allâhumma shalli ‘alâ ḫabîbika sayyidinâ Muḫammadin wa âlihi wa shaḫbihi wa sallim 2xYa Allah, limpahkan rahmat takzim dan keselamatan kepada kekasih-Mu, pemimpin kami, Nabi Muhammad, berikut keluarga dan sahabatnya (2 kali).

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ أَجْمَعِيْنَ

Allâhumma shalli ‘alâ ḫabîbika sayyidinâ Muḫammadin wa ‘alâ âlihi wa shaḫbihi wa bârik wa sallim ajma‘înYa Allah, limpahkanlah rahmat kepada kekasih-Mu, pemimpin kami, Nabi Muhammad, berikut keluarga dan sahabatnya. Limpahkanlah pula berkah dan keselamatan kepada mereka semua.

﴿الدعاء﴾ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ، حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ حَمْدَ النَّاعِمِيْنَ، حَمْدًا يُّوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحِمَّدٍ

A‘ûdzubillâhi minasy-syaithâr-rajîm, bismillâhir-raḫmânir-raḫîm, al-ḫamdulillâhi rabbil-‘alamîn, ḫamdasy syâkirin, ḫamdan nâ‘imîn, ḫamdan yuwâfî ni‘amahu wa yukâfî’u mazîdah(u), yâ rabbanâ lakal-ḫamdu kamâ yanbaghî lijalâli wajhika wa ‘adhîmi sulthânika, allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muḫammadin wa ‘alâ âli sayyidinâ Muḫammadin.Doa Aku berlindung diri kepada Engkau dari setan yang di rajam. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam, sebagaimana orang-orang yang bersyukur dan orang yang memperoleh nikmat sama memuji, dengan pujian yang sesuai dengan nikmatnya dan memungkinkan di tambah nikmatnya. Tuhan kami, hanya Engkau segala puji, sebagaimana yang patut terhadap kemuliaan Engkau dan keagungan Engkau. Ya Allah tambahkanlah kesejahteraan dan keselamatan kepada penghulu kami Nabi Muhammad dan kepada keluarganya.

اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ وَأَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَاْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَّلْنَا وَمَا سَبَّحْنَا وَمَا اسْتَغْفَرْنَا وَمَا صَلَّيْنَا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً إِلَى حَضَرَةِ حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَى جَمِيْعِ إِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِ اللهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْن، خُصُوْصًا إِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجِيْلَانِيّ، ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا إِلَى آبَائِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا، وَنَخَصُّ خَصُوْصًا إِلَى مَنِ اجْتَمَعْنَا هٰهُنَا بِسَبَبِهِ وَلِأَجْلِهِ

Allâhumma taqabbal wa aushil tsawâba mâ qara’nâhu minal-qur’anil-‘adhîmi wa mâ hallalnâ wamâ sabbaḫnâ wamâstaghfarnâ wamâ shallainâ ‘alâ sayyidinâ Muḫammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallamâ hadiyyatan wâshilatan wa raḫmatan nâzilatan wa barakatan syâmilatan ilâ ḫadlrati ḫabîbinâ wa syafî‘nâ wa qurrati a‘yuninâ sayyidinâ wa maulana Muḫammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallamâ, wa ilâ jamî‘i ikhwânihi minal-anbiyâ’i wal mursalîna wal-auliyâ’i wasy-syuhadâ’i wash-shaliḫina wash-shaḫâbati wat-tâbi‘înâ wal-‘ulamâ’il-‘âmilîna wal-mushannifînal-mukhlashîna wa jamî‘il-mujâhidînâ fî sabîlillâhi rabbil-‘âlamîna wal-malâ’ikatil-muqarrabîna, khusûshan ilâ sayyidinâsy-Syaikhi Abdil Qâdir al-Jîlâni, tsumma ilâ arwâhi jami‘i ahlil-qubûri minal-muslimînâ wal-muslimâti wal-mu’minînâ wal-mu’minâti min masyâriqil-ardli wa maghâribihâ barrihâ wa baḫrihâ khusushan ilâ âbâ’inâ wa ummahâtinâ wa ajdâdinâ wa jaddâtinâ, wa nakhushshu khusûshan ilâ man ijtama‘nâ hahunâ bisababihi wa liajlihi.Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala ayat-ayat Quranul ‘adhim yang telah kami baca, tahlil kami, tasbih dan istighfar kami, dan bacaan shalawat kami kepada penghulu kami Nabi Muhammad dan kepada keluarganya. Sebagai hadiah yang bisa sampai, rahmat yang turun, dan berkah yang cukup kepada kekasih kami, penolong dan buah mata kami, penghulu dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, kepada semua temannya dari para Nabi dan para Utusan, kepada para wali, pahlawan yang gugur (Syuhada), orang-orang yang salih, para sahabat, dan tabi’in (para pengikutnya); kepada para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas, kepada semua pejuang di jalan Allah (membela agama-Nya), Allah raja seru sekalian alam; dan kepada para Malaikat muqarrabin, terutama Syekh Abdul Qadir al-Jilani, kemudian kepada ahli kubur, muslim yang laki-laki dan yang perempuan, mukmin yang laki-laki dan yang perempuan, dari dunia timur dan barat di darat dan di laut, terutama lagi kepada bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, nenek-nenek kami yang laki-laki dan yang perempuan, lebih terutama lagi kepada orang yang menyebabkan kami sekalian berkumpul di sini dan untuk keperluannya.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ، اَللّٰهُمَّ أَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلَى أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ أَهْلِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ

Allâhummaghfirlahum warḫamhum wa ‘âfihim wa‘fu ‘anhum, allâhumma anzilir-raḫmata wal-maghfirata ‘alâ ahlil-qubûri min ahli lâ ilâha illallâhu muḫammadur-rasûlullahiYa Allah ampunilah mereka, kasihanilah mereka, dan maafkanlah mereka. Ya Allah turunkanlah rahmat, dan ampunan kepada ahlul kubur yang ahli mengucapkan “Laa ilaaha illaallah, Muhammadur rasulullah” (Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad Utusan Allah).

رَبَّنَا أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَّارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَّارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ، اَلْفَاتِحَة

Rabbanâ arinâl-ḫaqqa ḫaqqan warzuqnât-tibâ‘ah, wa arinâl-bâthila bâthilan warzuqnâj tinâbah. Rabbanâ âtinâ fid-dunyâ ḫasanatan wa fil-âkhirati ḫasanatan wa qinâ ‘adzaban-nâr. Subḫâna rabbika rabbil-‘izzati ‘ammâ yashifun, wa salamun ‘alal-mursalîn, wal-ḫamdulillâhi rabbil-‘âlamîn. Al-fâtiḫah..Tuhan kami, tunjukkanlah kami kebenaran dengan jelas, jadikanlah kami pengikutnya, tunjukkanlah kami perkara batil dengan jelas, dan jadikanlah kami menjauhinya. Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka, Maha Suci Tuhanku, tuhan yang bersih dari sifat yang di berikan oleh orang-orang kafir, semoga keselamatan tetap melimpahkan kepada para Utusannya dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian Alam. Al Fatihah. 

Delivered by FeedBurner

Silahkan Masukan Alamat Email Anda dan Klik SubScribe Ikuti Petunjuk di layar anda untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan Menerima Artikel Terbaru Setiap ada Postingan terbit. Jazakalla Khair

Delivered by FeedBurner

Selasa, 05 November 2024

PERBEDAAN NABI DAN RASUL

PERBEDAAN NABI DAN RASUL

Oleh : Syaikha Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Pertanyaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : ‘Apakah terdapat perbedaan antara Nabi dan Rasul .”

Jawaban :

Memang benar, ada perbedaan antara Nabi dan Rasul. 

Ulama mengatakan bahwa Nabi adalah seorang yang diberi wahyu oleh Allah dengan suatu syari’at namun tidak diperintah untuk menyampaikannya, akan tetapi mengamalkannya sendiri tanpa ada keharusan untuk menyampaikannya.

Sedangkan Rasul adalah seorang yang mendapat wahyu dari Allah dengan suatu syari’at dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya dan mengamalkannya. Setiap rasul mesti nabi, namun tidak setiap nabi itu rasul.

Jadi para nabi itu jauh lebih banyak ketimbang para rasul. Sebagian rasul-rasul itu dikisahkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an dan sebagian yang lain tidak dikisahkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mu’jizat melainkan dengan seizin Allah“. [Ghafir/40: 78].

Bertolak dari ayat ini, maka dapat disimpulkan bahwa setiap nabi yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah juga sebagai rasul.

Pertanyaan.

Apakah para rasul yang ada itu memiliki keutamaan yang sama di antara mereka ?

Jawaban.

Rasul-rasul yang ada tidak memiliki keutamaan yang sama, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ 

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. 

Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat“. [Al-Baqarah/2 : 253].

وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Sungguh telah Kami utamakan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian yang lain“. [Al-Isra/17 : 55].

Baca Juga  Hari Perhitungan (Hisab)

Kita semua wajib beriman dengan seluruh rasul itu bahwa mereka itu benar dan jujur dalam membawa risalah serta membenarkan apa yang diwahyukan kepada mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah (hai orang-orang mu’min) :”Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya“. [Al-Baqarah/2 : 136]

Dan ini adalah yang diyakini oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ  مِنْ رُسُلِهِ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya “. [Al-Baqarah/2 : 285].

Maka kita tidak membedakan salah seorangpun dari rasul-rasul itu dalam hal mengimaninya ; masing-masing benar dan dibenarkan serta risalah yang dibawa adalah haq.

Akan tetapi kita boleh membedakan dalam dua hal :

Pertama.

Dalam keutamaan. Kita mengutamakan sebagian dari para rasul atas sebagian yang lain sebagaimana Allah juga mengutamakan sebagian atas sebagian yang lain serta mengangkat sebagian dari mereka beberapa derajat. Akan tetapi kita tidak menyatakannya dengan nada membanggakan atau menyatakannya dengan nada membanggakan atau meremehkan yang diungguli.

Dalam hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa seorang Yahudi telah bersumpah :”Tidak ! Demi yang memilih Musa atas sekalian manusia”. Maka seorang laki-laki dari Anshar menempeleng muka laki-laki Yahudi itu ketika mendengar ucapannya seraya mengatakan :”Jangan kau katakan demikian sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tengah-tengah kami !”

Maka si Yahudi itu datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengadu kepada beliau. “Aku punya dzimmah (jaminan perlindungan) dan perjanjian. Lalu apa gerangan yang membuat si fulan menempeleng mukaku ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya kepada laki-laki Anshar tadi :”Kenapa kamu menempeleng mukanya ?”. Maka ia pun mengutarakan 

permasalahannya, dan Nabi akhirnya murka sampai terlihat sesuatu di muka beliau. Beliau kemudian bersabda, “Janganlah engkau melebihkan di antara nabi-nabi Allah!”.

Baca Juga  Iman Kepada Hari Kemudian

Dalam hadits Shahih Al-Bukhari dan yang lain juga disebutkan riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :”Tidak layak bagi seorang hamba untuk mengatakan, Aku lebih baik daripada Yunus bin Mata !”.

Kedua.

Dalam hal ittiba’. Kita tidak boleh mengikuti rasul kecuali yang memang diutus untuk kita, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena syari’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasakh seluruh syari’at yang sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا

 أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab

(yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu ; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan - meninggalkan kebenaran yang datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (syari’at) dan jalan yang terang (minhaj)” [Al-Maidah/5 : 48]

[Disalin dari kitab Fatawa Anil Iman wa Arkaniha, yang di susun oleh Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud, edisi Indonesia Soal-Jawab Masalah Iman dan Tauhid, Pustaka At-Tibyan]

Home/A3. Aqidah Iman dan.../Perbedaan Nabi Dan Rasul

Cinta Akhirat, Menghilangkan Keraguan Dalam Islam, Ayat Pemusnah Sihir, Syair Nasyid Arab Tanpa Musik Mp3 Download

Referensi : https://almanhaj.or.id/276-perbedaan-nabi-dan-rasul.html

Disalin dari sumber : Almanhaj.

Rachmat.M.Minal

Silahkan Masukan Alamat Email Anda dan Klik SubScribe Ikuti Petunjuk di layar anda untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan Menerima Artikel Terbaru Setiap ada Postingan terbit. Jazakalla Khair

Delivered by FeedBurner

Senin, 07 Oktober 2024

KESEHAAN MENDERITA DAHAK YANG SULIT DIKELUARKAN

Ini Obat Pengencer Dahak yang Bisa Dibeli di Apotek

DAFTAR 


كن حذرا ‼️ البلغم العنيد يمكن أن يسد الجهاز التنفسي!

هل تعاني في كثير من الأحيان من البلغم الذي يصعب طرده ويستمر لفترة طويلة؟ يمكن أن تؤدي هذه الحالة إلى تعطيل تدفق الهواء الأمثل ودوران الهواء. إذا تركت دون علاج، يمكن أن تتطور إلى مشكلة خطيرة، خاصة بالنسبة لأولئك الذين يعانون من مشاكل في الجهاز التنفسي مثل الربو أو مرض الانسداد الرئوي المزمن (مرض الانسداد الرئوي المزمن) مرض الانسداد الرئوي المزمن).ولهذا السبب، نقدم حلاً طبيعيًا: ريسبيربا، وهو عشب مصمم خصيصًا للمساعدة في طرد البلغم بشكل فعال وطبيعي. تم تسجيل ريسبوهيرب مع خبراء ذوي خبرة في(ببوم ) (ببوم،) وليس 

 له أي آثار جانبية، وبالطبع هو حلال. الخبر السار، اليوم هناك

 عرض ترويجي! من السعر الأولي ١٤٥ ألفًا، أصبح الآن ٩٨٠٠٠ روبية إندونيسية فقط!لا تفوت هذه الفرصة، لأن 

العرض صالح اليوم فقط! 

Apakah Anda sering menderita dahak yang sulit dikeluarkan dan berlangsung lama? Kondisi ini dapat mengganggu aliran udara dan sirkulasi udara secara optimal. Jika tidak diobati dapat berkembang menjadi masalah yang serius, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan pernafasan seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Oleh karena itu, kami menawarkan solusi alami: Resperpa, Ini adalah ramuan yang dirancang khusus untuk membantu mengusir dahak secara efektif dan alami. RespoHerb telah terdaftar pada ahli berpengalaman di (Bboom) (Bboom), tidak memiliki efek samping, dan tentunya halal. Kabar gembira, hari ini ada promosi!

كن حذرا ‼ البلغم العنيد يمكن أن يسد الجهاز التنفسي!

Hati-hati!!️ Dahak membandel bisa menyumbat sistem pernapasan!

هل تعاني في كثير من الأحيان من البلغم الذي يصعب طرده ويستمر لفترة طويلة؟ يمكن أن تؤدي هذه الحالة إلى تعطيل تدفق الهواء الأمثل ودوران الهواء. إذا تركت دون علاج، يمكن أن تتطور إلى مشكلة خطيرة، خاصة بالنسبة لأولئك الذين يعانون من مشاكل في الجهاز التنفسي مثل الربو أو مرض الانسداد الرئوي المزمن (مرض الانسداد الرئوي المزمن) مرض الانسداد الرئوي المزمن).ولهذا السبب، نقدم حلاً طبيعيًا: ريسبيربا، وهو عشب مصمم خصيصًا للمساعدة في طرد البلغم بشكل فعال وطبيعي. تم تسجيل ريسبوهيرب مع خبراء ذوي خبرة في(ببوم ) (ببوم،) وليس له أي آثار جانبية، وبالطبع هو حلال. الخبر السار، اليوم هناك عرض ترويجي! من السعر الأولي ١٤٥ ألفًا، أصبح الآن ٩٨٠٠٠ روبية إندونيسية فقط! لا تفوت هذه الفرصة، لأن العرض صالح اليوم فقط!

Apakah Anda sering menderita dahak yang sulit dikeluarkan dan berlangsung lama? Kondisi ini dapat mengganggu aliran udara dan sirkulasi udara secara optimal. Jika tidak diobati dapat berkembang menjadi masalah yang serius, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan pernafasan seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Oleh karena itu, kami menawarkan solusi alami:

 Resperpa, Ini adalah ramuan yang dirancang khusus untuk membantu mengusir dahak secara efektif dan alami. RespoHerb telah terdaftar pada ahli berpengalaman di (Bboom) (Bboom), tidak memiliki efek samping, dan tentunya halal. Kabar gembira, hari ini ada promosi! Dari harga awal 145.000, kini hanya Rp 98.000!
Jangan lewatkan kesempatan ini, karena penawaran hanya berlaku hari ini saja! 

Selengkapnya Klik --> : https://www.halodoc.com/artikel/ini-obat-pengencer-dahak-yang-bisa-dibeli-di-apotek

Disalin dari sumber; https://www.halodoc.com/artikel/ini-obat-pengencer-dahak-yang-bisa-dibeli-di-apotek

Dari harga awal 145.000, kini hanya Rp 98.000! Jangan lewatkan kesempatan ini, karena penawaran hanya berlaku hari ini saja!

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan kirim Email untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit.

Delivered by FeedBurner

Silahkan Masukan Alamat Email Anda dan Klik SubScribe Ikuti Petunjuk di layar anda untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan Menerima Artikel Terbaru Setiap ada Postingan terbit. Jazakalla Khair

Delivered by FeedBurner

MULTI POST

Feed Burner Al Islam

Dapatkan Posting Terbaru Darai Kami

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

POST BLOG

Daftar Blog

Software

Search in the Quran

Use the following code to display the Quran Search Box in your website
Search in the Quran
Search:
Download | Free Code
www.SearchTruth.com

Copy Paste Quranflash

Tampilan Quranflash dalam halaman web Anda! Sekarang Anda dapat menampilkan halaman Web Anda Quranflash dalam widged menggunakan kode HTML/Javascript berikut Copy paste kode dibawah ini:

Quran Complex

Copy Paste Quran Flash

Anda juga dapat menampilkan Quranflash sebelumnya dalam halaman web Anda menggunakan kode HTML berikut: Tambah Gadget dan pilih HTML/Javascript, copy paste kode dibawah ini dan letakkan pada gadget tadi

Quran Auto Reciter Free For HP

p align="center"> Bookmark and Share
 
Advertisements
Quran Auto Reciter - FREE
Read the Quran in Arabic, English and Urdu. Listen the Quran from a vast choice of famous reciters. (Ms Windows 98/2000/XP/Vista/7)
www.searchtruth.com

Cheap International Calls
FREE mins! NO FEES. Pinless
Call Instantly. Manage Online
www.MiniCalls.com

Azan Times For Worldwide Prayers For Mobile Phones - FREE
Listen Automatic Azan (Athan) on every prayer time in mobile phone.
www.searchtruth.com

99 Names of Allah for Mobile Phone - FREE
Read, Search and Listen the 99 names of Allah with a reference of each name in Quran.
www.searchtruth.com

Hadith Qudsi For Mobile Phones - FREE
Read the collection of 40 Hadith Qudsi on the Mobile phone.
www.searchtruth.com

Athan Software for Windows (98, 2000, XP, Vista, 7) - FREE
Listen Automatic Athan on every prayer time in your computer now.
www.islamicfinder.org

Dowload Quran Recitation for Mobile Phones - FREE
Listen the Quran recitation in your Mobile Phones.
www.searchtruth.com

Islamic Supplications Dua Prayers For Mobile Phones
Read the Islamic Supplications Dua on the mobile phone.
www.searchtruth.com

ARTIKEL

POSTING



GADGET

Visitors

free counters

ARSIP

Arsip Blog


MULTI TAB 9

Daftar Blog Saya

LABEL

Label

MULTI TAB 11




 
KEMBALI KEATAS
') }else{document.write('') } }